Ketika Sekolah Tidak Bisa Berdiri Sendiri: Mengapa Pendidikan Bermutu Hanya Lahir dari Partisipasi Semesta?

Pendidikan bermutu lahir dari partisipasi semesta, dan sekolah tidak sendirian. Sebuah refleksi tentang peran kita untuk pendidikan yang lebih baik.

Beberapa orang masih percaya bahwa pendidikan adalah urusan sekolah.

Selama guru hadir di kelas, siswa belajar, dan ujian tetap berjalan, semuanya dianggap baik-baik saja.

Tapi realitas di lapangan BERKATA LAIN.

Ada anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Ada guru yang mengajar sambil memikirkan biaya hidup bulan depan. Ada orang tua yang ingin membantu anaknya belajar, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Dan ada banyak sekolah yang sebenarnya sedang berjuang diam-diam, tanpa pernah benar-benar dilihat.

Data PISA 2022 mencatat bahwa 82% siswa Indonesia berada di bawah level minimum kompetensi matematika, jauh di atas rata-rata OECD yang 31%. Di bidang membaca, angkanya 75%. Bukan karena anak-anak Indonesia tidak cerdas, tetapi karena kita belum sepenuhnya memahami bahwa pendidikan bermutu adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik sekolah.

Top performers and low-performing students in mathematics, reading and science

Di titik itulah satu kesadaran penting mulai tumbuh: pendidikan bermutu tidak mungkin dibangun oleh sekolah sendirian. Ia hanya bisa tumbuh ketika banyak pihak ikut merasa memiliki. Bukan sekadar hadir. Tetapi benar-benar terlibat.

Pendidikan Adalah Ekosistem, Bukan Sekadar Ruang Kelas

Guru memang berada di garis depan. Mereka mengajar, membimbing, mengevaluasi, bahkan sering menjadi tempat siswa mencurahkan masalah hidupnya.

Tetapi sehebat apa pun guru, ada batas yang tidak bisa mereka lewati sendirian.

Seorang guru bisa menjelaskan pentingnya membaca. Namun jika di rumah anak tidak pernah melihat siapa pun membaca, pesan itu perlahan kehilangan kekuatannya. Guru bisa mengajarkan disiplin. Tetapi ketika lingkungan sekitar memperlihatkan kebiasaan yang bertolak belakang, anak akan hidup dalam dua dunia yang saling bertentangan.

Penelitian John Hattie dalam Visible Learning (2009)[1] menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki effect size 0,51, di atas ambang efektivitas 0,40 yang ia tetapkan, menjadikannya salah satu faktor rumah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.

Penelitian John Hattie dalam Visible Learning tentang Efek Keterlibatan Orangtua terhadap prestasi belajar anak

Pendidikan sesungguhnya bukan hanya proses di ruang kelas. Ia adalah ekosistem. Dan dalam ekosistem itu, setiap orang memegang peran.

Belajar dari Lapangan: Ketika Keterbatasan Bertemu Kepedulian

Saat masih menjadi mahasiswa, saya pernah mengikuti KKN di sebuah daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di sana, saya mulai melihat pendidikan dari jarak yang berbeda, bukan dari teori di ruang kuliah, tetapi langsung dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Foto saat KKN di Langkat

Ada anak-anak yang berjalan cukup jauh untuk pergi belajar. Ada sekolah yang fasilitasnya sederhana. Dan ada guru yang tetap datang mengajar meski keadaan jauh dari ideal.

Namun yang paling saya ingat bukan keterbatasannya, melainkan semangat orang-orang yang tetap percaya bahwa pendidikan bisa mengubah masa depan. Warga desa yang bergotong royong memperbaiki bangku sekolah. Orang tua yang hadir dalam rapat kelas meski harus meninggalkan ladang. Pemuda setempat yang sukarela mengajar les sore hari tanpa bayaran.

Pengalaman itu mengajarkan satu hal: pendidikan sering bertahan bukan karena sistemnya sempurna, tetapi karena masih ada orang-orang yang memilih untuk peduli.

Mahasiswa, Sekolah, dan Lingkaran Keterlibatan yang Meluas

Beberapa tahun kemudian, saya mendampingi mahasiswa PPL di sekolah. Saya melihat bagaimana mereka mulai memahami bahwa menjadi pendidik tidak sesederhana menyampaikan materi.

Dokumentasi PPL 2023

Ada siswa yang sulit fokus karena masalah keluarga. Ada guru yang harus menangani banyak hal sekaligus. Dan ada sekolah yang tetap berusaha menciptakan suasana belajar terbaik meski dengan keterbatasan.

Yang menarik bukan hanya apa yang mahasiswa ajarkan kepada siswa, tetapi apa yang mereka pelajari dari proses itu sendiri. Mereka belajar empati. Mereka belajar bahwa mengajar adalah tentang manusia, bukan sekadar materi.

Inilah yang dimaksud partisipasi yang sesungguhnya: ketika seseorang terlibat, ia tidak hanya memberi, tetapi ia juga bertumbuh. Lingkaran kebaikan itu meluas, dan pendidikan menjadi milik lebih banyak orang.

Ruang Sederhana, Semangat yang Tidak Sederhana

Saya pernah mengajar di sebuah ruang kelas sederhana. Dindingnya tidak mewah. Fasilitasnya terbatas. Jauh dari gambaran sekolah modern yang sering muncul di media sosial.

Foto Reza Mengajar di MDTA Kota Medan

Tetapi di ruangan kecil itu, anak-anak tetap datang dengan semangat belajar. Mereka tetap mendengarkan. Tetap bertanya. Tetap tertawa ketika pelajaran berlangsung.

Di sinilah saya memahami sesuatu yang tidak ada di buku teks: pendidikan bermutu tidak selalu lahir dari bangunan megah. Kadang ia tumbuh dari ruang sederhana yang dipenuhi kepedulian. Dari guru yang tetap hadir, dari anak-anak yang tetap ingin belajar, dan dari lingkungan yang tidak menyerah pada keadaan.

Kualitas hubungan antara guru dan murid adalah salah satu faktor penentu utama dalam pembelajaran yang bermakna, bukan semata infrastruktur. Pemandangan di ruang kelas sederhana itu membuktikannya secara nyata.

Partisipasi Kecil yang Menggerakkan Banyak Hal

Kita sering membayangkan kontribusi untuk pendidikan harus selalu besar: bantuan dana, pembangunan fasilitas, atau program berskala nasional. Padahal, banyak perubahan justru lahir dari hal-hal sederhana.

Seorang ayah yang meluangkan waktu mendengar cerita anaknya sepulang sekolah. Ibu kantin yang memastikan tidak ada siswa yang makan sendirian. Mahasiswa yang bersedia menjadi relawan mengajar di desa. Warga yang membantu memperbaiki perpustakaan sekolah secara gotong royong. Atau alumni yang kembali ke sekolah lamanya hanya untuk mengatakan kepada adik kelas: "Kalian juga bisa berhasil."

Hal-hal seperti ini jarang masuk laporan resmi. Tetapi justru sering meninggalkan dampak paling lama, karena menyentuh bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan anak tentang dirinya sendiri dan masa depannya.

Masalah Terdalam Pendidikan Bukan Hanya Soal Fasilitas

Kita sering berbicara tentang gedung rusak, keterbatasan akses internet, atau kekurangan sarana belajar. Semua itu memang penting dan perlu ditangani.

Tetapi ada masalah lain yang jauh lebih sunyi: perasaan bahwa pendidikan hanyalah urusan institusi tertentu.

Ketika masyarakat merasa tidak punya hubungan dengan sekolah, maka sekolah perlahan berjalan sendirian. Dan sekolah yang berjalan sendirian akan mudah kelelahan. Guru kehilangan energi. Program kehilangan makna. Dan anak-anak kehilangan lingkungan yang percaya pada mereka.

Karena itu, partisipasi publik bukan sekadar pelengkap. Ia adalah energi yang menjaga pendidikan tetap hidup. Bahkan di banyak daerah, sekolah bisa bertahan bukan karena sistemnya sempurna, tetapi karena MASIH ADA ORANG-ORANG YANG PEDULI!.

Generasi Baru Membutuhkan Lebih dari Sekadar Guru

Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka hidup bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas. Mereka bisa belajar apa saja. Tetapi di saat yang sama, mereka juga bisa kehilangan arah dengan sangat cepat.

Karena itu, pendidikan hari ini tidak cukup hanya membuat siswa pandai menjawab soal. Mereka perlu dibantu agar mampu berpikir kritis, memahami nilai-nilai kemanusiaan, bekerja sama lintas perbedaan, dan tetap manusiawi di tengah perubahan teknologi yang terus bergerak.

Tugas sebesar itu jelas tidak bisa dibebankan hanya kepada guru. Dibutuhkan keterlibatan keluarga, komunitas, perguruan tinggi, media, dunia usaha, bahkan lingkungan sosial tempat anak bertumbuh setiap harinya.

Partisipasi Semesta: Tentang Rasa Memiliki yang Kita Jaga Bersama

Partisipasi semesta bukan berarti semua orang harus menjadi pendidik profesional. Intinya jauh lebih sederhana: apakah kita masih merasa bahwa masa depan anak-anak adalah urusan bersama?

Karena ketika rasa memiliki itu hilang, pendidikan perlahan berubah menjadi rutinitas administratif. Sekolah hanya mengejar target. Guru hanya mengejar laporan. Siswa hanya mengejar nilai. Dan kita lupa bahwa pendidikan seharusnya membentuk manusia, bukan sekadar mengisi ijazah.

Namun ketika masyarakat ikut terlibat, suasananya berubah. Sekolah tidak lagi terasa sendirian. Anak-anak merasa tumbuh di lingkungan yang percaya pada mereka. Dan guru tidak merasa berjuang tanpa dukungan.

Penutup

Pendidikan bermutu untuk semua bukan mimpi yang lahir dari satu kebijakan besar. Ia tumbuh dari banyak kepedulian kecil yang terus dijaga bersama.

Dari guru yang tetap sabar mengajar. Dari orang tua yang mau hadir mendampingi. Dari mahasiswa yang bersedia turun ke lapangan. Dari masyarakat yang tidak bersikap acuh. Dan dari keyakinan bersama bahwa setiap anak dimanapun ia berada, layak mendapatkan kesempatan belajar yang baik.

Karena pada akhirnya, sekolah mungkin bisa membangun ruang kelas. Tetapi hanya partisipasi semesta yang bisa membangun masa depan.

Referensi

  1. Constantino, S. (2020, March 31). Visible family engagement. Dr. Steve Constantino. https://drsteveconstantino.com/visible-family-engagement/

Komentar