Saya KAGET Saat Mereview Naskah di Jurnal Terindeks Scopus
Pagi hari ini, Saya menerima notifikasi email yang dikirimkan pada 01.30 waktu Indonesia, yang meminta persetujuan dari Saya untuk melakukan peninjauan sejawat (Review) pada sebuah naskah dalam Jurnal Frontiers in Education, dari penerbit Frontiers Media di Swiss.
...dan ini merupakan peninjauan Saya yang pertama sejak bergabung disana. 😜
By the way, Jurnal ini termasuk Jurnal Internasional bereputasi, dimana mereka terindeks di Scopus (Q2), 1.9 Impact Factor, dan 3.7 CiteScore.
Chief Editor-nya adalah Mary F. Rice, seorang Profesor dari University of New Mexico, yang punya minat penelitian tentang literasi digital bagi Guru, termasuk penyandang disabilitas. Sebuah keilmuan yang bahkan baru-baru ini ramai dibicarakan di Indonesia.
Perbedaan Jurnal Global dan di Indonesia
Sepanjang waktu berkecimpung dalam dunia penerbitan Jurnal, Saya melihat banyak hal yang berbeda dalam sistem pengelolaannya.
Di Indonesia sendiri, jurnal-jurnal yang ada lahir dari sistem Open Journal Systems (OJS), sebuah karya yang dikembangkan "Public Knowledge Project" (sebuah inisiatif penelitian di Universitas yang berpusat di Kanada).
Bahkan, dalam borang akreditasi Jurnal di Indonesia, formulirnya itu mengedepankan sistem OJS:
Berbeda dengan jurnal Global, yang saya tidak tahu pasti apakah ada persyaratan sistem yang digunakan. Kebanyakan jurnal yang Saya telusuri, justru mengedepankan sistem yang dikembangkan secara mandiri.
Misalnya jurnal dimana Saya sedang melakukan review sekarang: Saya mencari sistem apa yang mereka gunakan dari Backend, tetapi tidak ketemu hasilnya. Dan semuanya terlihat lebih sempurna. Lihat detail tangkapan layar ini:
Semua terlihat detail disana. Ya, memang OJS juga sudah terlihat detail, tetapi dari sisi desain, mereka terlihat lebih kaya.
Adaptasi Teknologi AI di Laman Reviewer
Sudah saatnya mengatakan dengan jelas: "We must embrace AI as a thinking partner" (Kita harus merangkul AI sebagai mitra berpikir).
Oleh karenanya, kemampuan berpikir kita harus ditingkatkan untuk mempertanyakan, memverifikasi, dan memaknai setiap yang dihasilkan dari AI dengan ketat.
Saya sedikit tercengang, ketika melihat halaman ini:
Ada bantuan AI untuk melakukan Review. Ini menarik, dan sepanjang menjalani proses editorial diberbagai jurnal, Saya belum pernah melihat ini.
Disaat sebagian kalangan menolak mentah-mentah keberadaan AI, tetapi disisi lain, mereka bahkan mengadopsinya untuk membantu melakukan review, membuatnya lebih bermanfaat. Menakjubkan.
Hasilnya: Review bisa dilaksanakan dengan lebih efisien, mendapat saran-saran yang dapat ditindak lanjuti, dan tentunya pekerjaan menjadi terasa lebih ringan.
Penutup
Mengalami proses review ini membuat Saya menyadari bahwa dunia akademik global terus bergerak cepat, menggabungkan teknologi dan humanisme. AI bukan sekadar alat. Ia adalah thinking partner yang menantang kita untuk berpikir lebih kritis, memverifikasi lebih cermat, dan memahami lebih dalam.
Untuk para peneliti dan akademisi di Indonesia, ini menjadi pengingat: terbukalah terhadap inovasi, adopsi teknologi secara bijak, dan terus asah kemampuan kognitif kita. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah perpanjangan dari kecerdasan kita, bukan penggantinya.
Komentar